![]() |
| Dok. Foto pribadi |
Sumberwringin — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sumberwringin menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas terpilihnya KH. Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan KH. Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026–2031.
Ucapan selamat tersebut disampaikan menyusul hasil Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026. Sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) secara mufakat menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU. Sementara itu, penetapan Ketua Umum PBNU dilakukan melalui mekanisme baru, yakni musyawarah AHWA menggantikan sistem one man one vote yang selama ini berlaku, setelah Gus Kikin meraih dukungan tertinggi dengan 472 suara dalam tahap penjaringan lima besar calon. PAC GP Ansor Sumberwringin menyampaikan doa dan harapan:
“Semoga senantiasa diberikan kekuatan, kesehatan, dan bimbingan dalam mengemban amanah untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan jam'iyyah Nahdlatul Ulama.”
Ucapan tersebut mencerminkan dukungan warga Nahdliyin di tingkat akar rumput terhadap kepemimpinan baru PBNU, sekaligus harapan agar kepengurusan periode 2026–2031 mampu menjawab berbagai tantangan organisasi ke depan.
Profil Singkat Gus Kikin
KH Abdul Hakim Mahfudz, akrab disapa Gus Kikin, lahir 17 Agustus 1958 di Pondok Pesantren Sunan Ampel, Jombang. Ia putra dari KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum. Dari jalur ibu, nasabnya bersambung kepada Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari — pendiri NU sekaligus Pondok Pesantren Tebuireng. Dengan begitu, Gus Kikin merupakan cicit pendiri NU tersebut.
Sejak 2020, Gus Kikin dipercaya sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng kedelapan, meneruskan KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) yang wafat pada tahun itu — proses regenerasi ini sudah disiapkan sejak 2016 melalui musyawarah keluarga besar keturunan KH Hasyim Asy'ari.
Ia pernah menjabat Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, lalu terpilih Ketua PWNU Jawa Timur masa khidmat 2024–2029, sebelum diusung sebagai calon Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35. Di luar organisasi, ia juga punya latar belakang di dunia usaha (migas dan media) serta sempat berkarier sebagai pelaut di PT Djakarta Lloyd. Sebagai calon, ia mengusung dua agenda besar: menghidupkan kembali Qanun Asasi NU sebagai pedoman berorganisasi, dan memperkuat kemandirian ekonomi NU.
Tantangan NU ke Depan (2026–2031)
- Konsolidasi organisasi pascamuktamar — perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum dari one man one vote menjadi musyawarah AHWA sempat memunculkan dinamika, sehingga soliditas jajaran pengurus perlu dirajut kembali.
- Penguatan ekonomi umat dan kemandirian jam'iyyah, termasuk kewirausahaan berbasis pesantren dan UMKM di lingkungan Nahdliyin.
- Revitalisasi Qanun Asasi NU sebagai pijakan dasar berorganisasi.
- Regenerasi kader dan pendidikan pesantren untuk mempersiapkan kepemimpinan lintas generasi.
- Peran kebangsaan dan moderasi beragama, menjaga persatuan bangsa dan budaya musyawarah dibanding cara konfrontatif.
- Digitalisasi dan konsolidasi peran global NU, melanjutkan transformasi tata kelola yang dirintis periode sebelumnya.
Dengan doa dan harapan yang disampaikan berbagai elemen Nahdliyin, termasuk PAC GP Ansor Sumberwringin, kepemimpinan KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin diharapkan membawa NU semakin kokoh dalam mengemban amanah untuk kemaslahatan umat, bangsa, dan jam'iyyah Nahdlatul Ulama pada periode 2026–2031.
Redaksi: Humas PAC GP Ansor Sumberwringin Bondowoso
Editor: Humas PAC GP Ansor Sumberwringin Bondowoso












