24jam Berkhidmat

IBX5B87908F43DC2

Dari Sawah ke Meja Hijau: Kisah Advokat Nyentrik yang Menukar Honor dengan Beras dan Kambing

 

Dok. Ilustrasi pribadi

BONDOWOSO, Ansor Raung – Di ruang sidang, ia adalah advokat yang piawai membela kliennya. Di luar ruang sidang, ia adalah sosok yang lebih sering ditemui membawa karung beras, ayam, atau jeriken minyak goreng ketimbang berkas perkara. Itulah gambaran keseharian Nurul Jamal Habaib, S.H., M.H., pengacara asal Bondowoso yang selama hampir satu dekade terakhir memilih jalan yang tidak biasa: menjadikan hukum sebagai bentuk pengabdian, bukan semata ladang profesi.

Perjalanan itu tidak dimulai dari kemewahan meja hukum yang mentereng. Sejak menimba ilmu di Fakultas Hukum Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya, pria yang akrab disapa Lora Habaib ini menapaki kariernya perlahan pada 2016, sebelum akhirnya resmi menyandang gelar advokat setahun berikutnya. Di masa-masa awal itu, kehidupannya jauh dari kesan glamor. Ia masih turun ke sawah membantu orang tuanya bertani, sembari bersama sang istri, Putri Ayu S, berjualan minyak wangi dan pakaian untuk menyambung hidup. Dari pernikahan itu, lahir tiga buah hati yang menjadi penyemangatnya: Yahya, Yasmin, dan Zahra.

Lahir 40 tahun silam di Bondowoso sebagai putra KH Baihaqi Miftah dan Hajah Lufiyah Mukarramah, Lora Habaib tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkannya bahwa ilmu—termasuk ilmu hukum—punya nilai jauh lebih besar ketika dibagikan kepada masyarakat luas. Prinsip itu yang kemudian ia bawa serius ke dalam profesinya. "Dari awal saya memang berpikir, advokat harus memiliki inovasi. Saya ingin bantuan hukum tidak hanya menjadi profesi, tetapi juga bagian dari pengabdian kepada masyarakat," tuturnya, mengenang niat awal yang menjadi kompas kariernya hingga kini.

Bantuan Hukum yang Tak Pandang Kelas

Gagasan itu tidak berhenti sebagai slogan. Lora Habaib mewujudkannya lewat LBH Abu Nawas, lembaga bantuan hukum yang ia rintis dengan konsep sosial yang unik: siapa pun boleh datang meminta pendampingan hukum, entah mereka orang berada maupun warga yang hidup pas-pasan, tanpa dibeda-bedakan berdasarkan isi dompet. Konsekuensinya, honor yang ia terima pun tidak selalu berbentuk uang. Sekarung beras, seekor ayam, kambing, bahkan sekaleng minyak goreng, kerap menjadi "bayaran" yang justru ia terima dengan lapang dada—bukti nyata bahwa keadilan, baginya, tidak bisa diukur dengan nominal rupiah semata.

Di balik dedikasinya yang serius terhadap hukum, ada sisi lain dari Lora Habaib yang justru mencuri perhatian publik: penampilannya yang jauh dari kesan formal seorang pengacara pada umumnya. Dalam beberapa persidangan, ia tampil mengenakan busana bergaya kerajaan India yang megah, balutan pakaian tradisional Jepang, hingga pakaian adat dari berbagai daerah di Nusantara. Gaya nyentrik ini bukan sekadar aksi mencari sensasi. Bagi Lora Habaib, setiap helai kain yang ia kenakan adalah pesan—tentang keberagaman, tentang penghormatan terhadap perbedaan budaya, dan tentang keyakinan bahwa hukum semestinya hadir merangkul semua kalangan, bukan menjaga jarak dengan sekat-sekat formalitas.

Dari Pesantren hingga Program 1.000 WiFi

Kiprah Lora Habaib rupanya tidak berhenti di ranah litigasi. Ia juga mengemban amanah sebagai pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ulum yang berada di Desa Kerang, Kecamatan Sukosari. Dua dunia yang ia geluti—hukum dan pesantren—rupanya saling melengkapi, membentuk cara pandangnya bahwa keadilan dan nilai-nilai keagamaan semestinya berjalan beriringan, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Pada 2021, langkahnya semakin melebar dengan mendirikan Firma Hukum Abu Nawas International Law Office, penanda bahwa jaringan advokasinya kini merambah skala yang lebih luas. Tak berhenti di situ, kepeduliannya terhadap masyarakat pelosok mendorongnya menggagas program 1.000 WiFi—inisiatif yang menyasar wilayah-wilayah yang selama ini tertinggal akses informasi dan teknologi. Baginya, akses terhadap keadilan di era digital tidak melulu soal pendampingan di meja hijau, tetapi juga soal membuka jalan bagi masyarakat agar tidak tertinggal dari arus informasi.

Mendampingi Puluhan Lansia, Menjaga Marwah Posbakum

Rekam jejak panjang itulah yang kini mengantarkan nama Nurul Jamal Habaib sebagai salah satu nominator dalam ajang Ansor Raung Award 2026, tepatnya di kategori The Legal Aid and Community Advocacy Award atau Tokoh Bantuan Hukum dan Advokasi Masyarakat. Penghargaan ini bukan penghargaan sembarangan—ia diberikan khusus kepada sosok yang menunjukkan dedikasi dan konsistensi dalam memperluas akses keadilan lewat bantuan hukum, pendampingan, serta advokasi yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Salah satu bukti nyata dedikasi tersebut terlihat dari kepercayaan yang diberikan kepada LBH Abu Nawas untuk mengelola layanan Posbakum di Pengadilan Negeri Bondowoso. Melalui layanan inilah, Lora Habaib dan timnya turun tangan mendampingi sekitar 80 warga lanjut usia yang menjadi korban dugaan kredit fiktif dan penyalahgunaan identitas—kasus yang kerap luput dari perhatian namun nyata-nyata merugikan kelompok rentan.
"Konsep adil bagi kami adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya. Hukum harus diterapkan tanpa pandang bulu," tegasnya, sebuah kalimat sederhana namun menjadi pegangan yang ia praktikkan secara konsisten, dari pendampingan warga miskin di pelosok desa hingga lansia yang menjadi korban penipuan finansial.

Fondasi Pengabdian yang Terus Tumbuh
Prinsip "adil menempatkan sesuatu pada tempatnya" itulah yang menjadi fondasi dari seluruh langkah Nurul Jamal Habaib dalam menghubungkan profesi hukum dengan kepedulian sosial dan pemberdayaan masyarakat. Dari sawah yang pernah ia garap bersama orang tua, dari lapak minyak wangi dan pakaian yang ia jajakan bersama sang istri, hingga kini menjadi rujukan bantuan hukum bagi warga lintas kalangan—perjalanan itu menggambarkan sosok yang tidak pernah lupa dari mana ia berasal.

Kombinasi antara ketegasan dalam menegakkan hukum, kepekaan terhadap masyarakat kecil, serta keberanian tampil beda demi menyuarakan pesan keberagaman, menjadikan Lora Habaib figur yang layak disebut inspiratif. Tak berlebihan jika namanya kini disandingkan sebagai salah satu tokoh yang patut diperhitungkan dalam Ansor Raung Award 2026—sebuah pengakuan atas dedikasi panjang yang dibangun bukan dalam semalam, melainkan lewat konsistensi bertahun-tahun menempatkan keadilan di atas segalanya.

0 comments:

Posting Komentar